Empat Rapper Memilih Album Rap/Hip-hop Indonesia Favorit Mereka

Usaha VICE melacak kronik genre rap/hip-hop di Indonesia belum lengkap tanpa daftar karya rap paling berpengaruh dari musisi dalam negeri. Selama 30 tahun terakhir, kultur hip-hop dan subkultur rap setia menjadi wadah melepeh isi pikiran anak muda tanpa saring. Hip-hop jadi ajang kritik sosial sarat fakta hingga santai menertawakan seekor kera yang terpuruk-terperangkap dalam gua. Hip-hop konsisten melahirkan penulis lirik bernas dan pembuat rima cadas.

Hanya saja, saya tak sanggup melakukan tugas superberat untuk memilih rilisan apa saja yang berhak ada di daftar ini. Selain pengetahuan saya tak bagus-bagus amat, selera musik saya pun sudah dipasrahkan jauh-jauh hari pada algoritma. Maka, saya meminta bantuan empat rapper dari empat generasi berbeda untuk menyelesaikan masalah ini.

Berikut album rap/hip-hop favorit sepanjang masa pilihan Joe Million, Igor “Saykoji”, Gerry “Boyz Got No Brain”, dan Doyz “Blakumuh”.


JOE MILLION

Homicide – Godzkilla Necronometry (2002)

“Album yang sangat visioner dari tema, eksekusi, instrumental, dan sampul art yang benar-benar membekas. Bahkan, setelah 20 tahun sejak dirilis, album ini masih tetap punya korelasi dengan suasana Indonesia saat ini dan memaksa kepala untuk tetap mengangguk ketika mendengarnya,” kata Joe Million.

Para penggawa Homicide tetap harum namanya meski sudah lebih dari satu dekade menyatakan diri bubar. Godzkilla Necronometry masih berdiri tegak menjadi parameter terbaik rilisan hip-hop independen dalam negeri walaupun dirilis lebih dari dua dekade lalu.

Dikerjakan sejak 1998, album ini dirilis saat Homicide masih berformat trio: Herry Sutresna (Morgue Vanguard/MV), Aszi Syamfizie (Sarkasz), dan Ridwan Gunawan (DJ Evil Cutz). Godzkilla Necronometry jadi buku panduan sosial-politik penting tentang bagaimana kegelisahan anak muda progresif yang dibubuhkan harapan perubahan selepas Orde Baru jatuh, tapi malah dihadapkan pada kenyataan bahwa situasi tak banyak berubah setelahnya. 

BACA JUGA :   Januari, Perusahaan Farmasi Berencana Naikkan Harga Setidaknya 500 Obat di AS

BAP. – Monkshood (2018)

“Liriknya lebih seperti kumpulan puisi dengan teknis penulisan hip-hop yang cukup baik. [Musik] instrumental-nya fresh dan, walaupun ‘aneh’, tapi sangat catchy. Gue pasti masih dengar album ini 10-20 tahun ke depan,” kata Joe.

Monkshood menjadi album debut Kareem Pradipto Soenharjo dengan moniker BAP. Lahir dan tumbuh di Jakarta, Kareem merangkum komentar sosialnya dalam 11 lagu eklektik tentang narkoba, kesehatan mental, sampai agama. Buat Joe, BAP. adalah figur enigmatik, membuat Monkshood tidak mungkin ditinggalkan ketika membahas album terbaik. 


IGOR SAYKOJI

P-Squad – P-Squad (2001)

“Perpaduan antara hip-hop underground dengan tema berat yang dibawa Blakumuh, dengan Sweet Martabak yang lagunya sangat catchy dan easy listening. Seimbang antara idealisme hip-hop dan produksi komersil yang ringan dicerna. Fun, tapi secara lyrical bertanggung jawab. Album sekali seumur hidup,” kata Igor. Doi sampai punya dua kaset album ini, biar agak tenang kalau-kalau hilang satu.

P-Squad kerap dianggap “supergroup” karena merupakan gabungan dua grup alumni Pesta Rap, Blakumuh dan Sweet Martabak. Ditambah lagi, mereka kembali bekerja sama dengan Guest Music Production dalam penggarapan album. Sayang, P-Squad hanya merilis satu album saja. Dulu dilabeli self-titled, album perdana P-Squad kini diberi judul Eyo! kala dirilis ulang di gerai digital. Dari beberapa rilisan yang disebut di artikel ini, mungkin P-Squad yang lagu-lagunya paling ramah telinga awam.

X-CALIBOUR – Ini Baru (2005)

Doyz hingga Joe Million Memilih Album Rap Indonesia Terbaik Versi Mereka

X-CALIBOUR. FOTO: REVERBNATION.

“Grup hip-hop underground asal Surabaya yang raw sound-nya, buat pendengar bisa nostalgia dengan nuansa Wu-Tang Clan ala Jawa Timur,” kata Igor.

X-CALIBOUR punya andil besar dalam terbentuknya skena hip-hop Kota Pahlawan. Mereka jadi salah satu nama yang mencuat kala tergabung dalam album kompilasi Perang Rap (1999) lewat lagu “Dobrak”, rilisan label independen Pasukan Record.

BACA JUGA :   Jokowi: Subsidi Kendaraan Listrik Penting untuk Undang Investasi

Terbentuk pada 1998, X-CALIBOUR baru merilis album debutnya pada tahun 2005 berjudul Ini Baru juga lewat Pasukan Records. “Dobrak” juga kembali dirilis versi remix-nya ditemani banyak track-track kuat macam “Kanibalis” dan “Fenomena Panggung”.

Dengarkan Fenomena Panggung di sini.


GERRY XHAQALA (BOYZ GOT NO BRAIN)

Iwa K – Topeng (1994)

“Meski ini adalah album kedua Iwa, Topeng adalah sebuah monumen untuk hip-hop Indonesia,” kata Gerry.

Album pertama Iwa K, Ku Ingin Kembali (1993), memang didapuk jadi awal perhitungan umur musik rap di Indonesia. Tapi, single Iwa K paling sukses secara komersil, “Bebas”, justru ada di album keduanya, Topeng (1994). Produksi lagu masih dibantu oleh Guest Music Production, kolektif produser yang juga membantu Iwa K membuat album perdananya.

Doyz – Perspektif (2002)

“Perspektif adalah sebuah produksi rumahan yang dirilis tahun 2002 dengan fasilitas seadanya. Album ini menjadi sebuah monumen pergerakan skena hip-hop underground, menyulut banyaknya album lokal underground yang rilis pasca-Perspektif,” kata Gerry.

Merasa perlu merasakan bagaimana menjadi produser dari lagu-lagu sendiri tanpa campur tangan orang lain, Asmara Hadi “Doyz” menumpahkan idealismenya dalam album debut solonya berjudul Perspektif. Padahal saat itu Doyz baru aja ngelarin album bareng P-Squad. Dibantu mendiang Budi “Paperclip”—sesama alumni Pesta Rap—yang merelakan kamarnya jadi studio dadakan, album lirikal ini digarap. Perspektif langsung menjadi barometer rilisan independen yang penting pada masanya. 


DOYZ BLAKUMUH

Joe Million – Vulgar (2016)

“Salah satu pendobrak estetika rap kiwari, di tengah tsunami drama beef enggak penting di skena rap domestik circa 2016-2017. Mode paling bengis Joe Million yang jarang saya dengar lagi sampai sekarang di rilisan-rilisannya saat ini. Goresan lirik bernas pada bentangan sonik gelap atmosferik hasil racikan Senartogok, sangat mampu mengocok isi kepala kala didengarkan tanpa jeda,” kata Doyz.

BACA JUGA :   Dua Tewas dalam Penembakan di Rotterdam

Perjumpaan tak sengaja antara Joe Million dengan Senartogok di ITB seperti sudah ditakdirkan. Mereka memang diharuskan berjumpa agar bisa berkolaborasi dan menghasilkan salah satu album rap paling penting dekade ini. Dikerjakan selama dua tahun dari 2014-2016, Joe Million secara layak memperkenalkan diri ke industri lewat album mempesona berjudul Vulgar

Swagton Nirojim – Krowbar (2018)

“Lupakan lagu-lagu rap genre selangkangan nan generik di masa lalu karena kanjeng Swagtron Leksikon sudah datang untuk merebut takhtanya. Salah satu album rap lokal dengan komposisi paling ideal untuk terus dirotasikan di audio player mana pun tanpa stop sekali pun. Hanya Krowbar yang mampu spit cadence ala Pesta Rap dengan level swag leksikon semegah pohon Yggdrasil,” kata Doyz.

Album kompilasi penting dari Grimloc Records, Pretext for Bumrush (2017), membuat pemerhati hip-hop mulai mengenal nama Krowbar secara lebih luas lewat sumbangan lagu “Sabda Raja Dosa”. Setahun setelahnya, Krowbar langsung merilis album debutnya berjudul Swagton Nirojim juga di bawah Grimloc Records, yang menyebut album ini sebagai kumpulan lagu rap dengan lirik rima selokan. Liriknya raw, panas, ganas. Sampul albumnya aduhai nan ikonik: pria dengan dandanan heavy metal sedang jajan di warung.

Check Also

PBB Peringatkan Adanya ‘Ledakan’ Kematian Anak-anak di Gaza

BACA JUGA :   Jerman Pertimbangkan untuk Larang Kelompok Sayap Kanan Ekstrem