Erdogan akan Dilantik Sebagai Presiden Turki untuk Masa Jabatan Ketiga

Presiden Recep Tayyip Erdogan akan dilantik pada Sabtu (3/6) sebagai kepala negara untuk lima tahun mendatang setelah memenangi pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua yang bersejarah. Pelantikan tersebut menandai masa jabatan ketiga bagi Erdogan.   

Pelantikan Erdogan akan dilakukan di gedung parlemen, dan dilanjutkan dengan upacara mewah di istananya di Ibu Kota Ankara yang dihadiri puluhan pemimpin dunia.  

Pemimpin Turki yang transformatif, tetapi dianggap memecah-belah itu berhasil memenangkan pilpres putaran kedua pada 28 Mei. Saat itu, ia berhadapan dengan koalisi oposisi yang kuat. Ia berhasil melibas para saingannya, meski Turki menghadapi krisis ekonomi dan hujan kritik menyusul gempa dahsyat Februari yang menewaskan lebih dari 50.000 orang.  

Erdogan meraup 52,18 persen suara, sedangkan saingannya dari kelompok sekuler, Kemal Kilicdaroglu, mengantongi 47,82 persen suara, berdasarkan data resmi.    

Pemimpin terlama Turki menghadapi tantangan langsung dan besar dalam masa jabatan ketiganya yang didorong oleh perlambatan ekonomi dan ketegangan kebijakan luar negeri dengan Barat.    

BACA JUGA :   Kerabat dari Warga AS yang Ditahan di Luar Negeri Serukan Upaya Pembebasan

Tantangan Ekonomi 

Mengatasi masalah ekonomi negara akan menjadi prioritas pertama Erdogan mengingat inflasi mencapai 43,70 persen, sebagian karena kebijakan pemotongan suku bunga yang tidak biasa untuk merangsang pertumbuhan.  

Pada Sabtu (3/6) malam, presiden dijadwalkan mengumumkan kabinet barunya. Media berspekulasi bahwa mantan menteri keuangan Mehmet Simsek, seorang tokoh internasional, akan memainkan peran.    

Mantan ekonom Merrill Lynch, Simsek dikenal karena menentang kebijakan Erdogan yang tidak konvensional.  

Dia menjabat sebagai menteri keuangan antara 2009 dan 2015 dan wakil perdana menteri yang bertanggung jawab atas ekonomi hingga 2018, sebelum mengundurkan diri menjelang serangkaian kehancuran lira tahun itu.  

Kunjungan Kepala NATO   

Sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) dengan cemas menunggu Ankara memberi lampu hijau terkait upaya Swedia untuk bergabung dengan aliansi pertahanan pimpinan AS, sebelum pertemuan puncak pada Juli.  

BACA JUGA :   Penghargaan Ig Nobel untuk Prestasi Ilmiah yang Lucu

Erdogan telah berlarut-larut dalam menyetujui aplikasi tersebut, menuduh Stockholm melindungi “teroris” dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) terlarang yang terdaftar sebagai kelompok teror oleh Ankara dan sekutu Baratnya.  

Kepala NATO Jens Stoltenberg akan menghadiri pelantikan Erdogan pada akhir pekan dan mengadakan pembicaraan dengannya, kata aliansi itu, Jumat (2/6).  

Menteri Luar Negeri Swedia Tobias Billstrom mengatakan di Twitter bahwa “pesan yang jelas” muncul pada pertemuan NATO di Oslo agar Turki dan Hongaria memulai proses ratifikasi. 

Rekannya dari Turki Mevlut Cavusoglu menanggapi: “Pesan yang sangat jelas kepada Teman Swedia kami! Penuhi komitmen Anda yang muncul dari Memorandum Trilateral & ambil langkah nyata dalam perang melawan terorisme. [ah/ft]  

Check Also

PBB Peringatkan Adanya ‘Ledakan’ Kematian Anak-anak di Gaza

BACA JUGA :   Dituduh Sebarkan Agama Kristen, Taliban Tahan 18 Orang, Termasuk Warga AS